Artikel Terbaru :

Sejarah Ducati di Ajang MotoGP

Kamis, 16 Juni 2011

Awal Mula
Ducati sebenarnya telah mengikuti ajang balapan MotoGP sejak tahun 1960-an. Sayangnya ketika peraturan teknik MotoGP berubah di awal 1970-an menjadi peraturan mesin dua tak 500cc, Ducati lantas mengundurkan diri dari ajang MotoGP. Mereka lantas kemudian menunggu perkembangan regulasi di ajang MotoGP yang memungkinkan bagi mereka untuk bisa berpartisipasi lagi di masa yang akan datang.

Ketika peraturan teknik MotoGP berubah menjadi pemakaian mesin wajib 4 tak di tahun 2002, Ducati kemudian menyatakan diri tertarik untuk mengikuti ajang MotoGP. Ducati lantas memperkenalkan sepeda motor Ducati Desmosedici di GP Italia 2002 di Mugello, yang menurut rencana akan mereka gunakan di musim 2003. Desmosedici sendiri berarti: distribusi desmodromic dengan 16 valves dalam bahasa Italia.[4] Tahun 2003 Ducati resmi memasuki ajang MotoGP dan mereka didukung penuh oleh sponsor Marlboro yang baru saja membelot dari tim Yamaha.[4] Sponsorship rokok sendiri belakangan kemudian dilarang di seluruh ajang olahraga, namun Marlboro tetap berkeras bertahan bersama Ducati (dan juga Scuderia Ferrari) sekalipun harus tampil dengan tampilan barcode polos.

2003-2006: Era pembangunan
Ducati Desmosedici GP5 2005.
Debut Ducati dengan dua pembalapnya yaitu Loris Capirossi dan Troy Bayliss di ajang MotoGP dimulai di GP Jepang 2003 di sirkuit Suzuka, Jepang, dan di balapan tersebut Ducati langsung meraih podium. Di GP Catalunya di sirkuit Barcelona, Capirossi bahkan berhasil menang setelah pemimpin balapan dari tim Repsol Honda yaitu Valentino Rossi terjatuh.Setelah itu berturut-turut podium mampu diraih Ducati sampai akhir musim. Capirossi secara umum berada di P4 klasemen akhir dan Bayliss berada di P6. Ducati sendiri mampu berada di P2 klasemen konstruktor di bawah Honda dan diatas Yamaha.
Musim 2004 dengan masih diperkuat duet Capirossi dan Bayliss, Ducati mencoba memodifikasi ulang motornya dengan harapan bisa menjadi penantang juara dunia yang sesungguhnya. Namun Ducati hanya mampu meraih posisi podium saja di musim 2004 tersebut, sekalipun motor Desmosedici sukses menjadi motor tercepat dalam sesi tes IRTA di sirkuit Catalunya dengan kecepatan 347km/j ditangan Loris Capirossi.
Musim balapan 2005 posisi Troy Bayliss di Ducati digantikan oleh pembalap veteran Carlos Checa.Ducati juga beralih pasokan ban ke Bridgestone. Perbaikan demi perbaikan yang Ducati lakukan akhirnya kembali berhasil mengantar Loris Capirossi meraih podium kemenangan di Motegi, Jepang dan Sepang, Kuala Lumpur. Checa sendiri masih kalah jauh ketimbang Capirex dan hanya mampu meraih posisi minimal podium ketiga.
Musim 2006 Ducati mengontrak Sete Gibernau untuk menggantikan posisi Carlos Checa.Setelah tampil secara impresif di tes musim dingin, Ducati melalui tangan Loris Capirossi akhirnya mampu memenangi balapan pembuka musim 2006 di Jerez, Spanyol. Ia kemudian sempat memimpin klasemen sebelum akhirnya ketika balapan GP Barcelona Capirossi dan Gibernau mengalami kecelakaan saat start. Kedua pembalap lantas mengalami cedera dan dilarikan ke rumah sakit. Capirex yang masih mengalami kesakitan kemudian tampil buruk di Assen, Belanda dan Gibernau yang cedera untuk sementara digantikan Alexander Hoffman. Kondisi Gibernau yang masih cedera sampai balapan terakhir akhirnya membuat Ducati memanggil Troy Bayliss yang saat itu berkompetisi di ajang World Superbike untuk balapan di seri terakhir di Valencia. Secara mengejutkan Bayliss tampil luar biasa dengan meraih pole dan kemudian mampu menerjemahkannya menjadi kemenangan manis bagi Ducati di akhir musim 2006 dengan Loris Capirossi yang berhasil finish P2, sekaligus menjadi finish 1-2 pertama Ducati di ajang MotoGP.

2007-2010: Era Casey Stoner
Musim 2007 kapasitas mesin MotoGP diturunkan dari 990cc menjadi 800cc.Ducati lantas bergerak cepat, dimana sejak awal Agustus 2006 mereka telah membangun 20 tipe mesin 800cc dengan berbagai variasi (merujuk pada insinyur senior Ducati, Filippo Preziosi). Ducati kemudian merekrut pembalap muda Australia, Casey Stoner dan mantan direktur teknis F1 Alan Jenkins untuk menangani motor mereka, sementara Loris Capirossi sendiri masih tetap bertahan dalam tim. Debut Stoner di Ducati berakhir manis dengan kemenangan luar biasa di seri perdana di Losail, Qatar.Stoner kemudian menambahkan catatan kemenangannya di Turki, China, Catalunya, Inggris, AS, Ceko, dan San Marino yang kemudian mengantarkannya menjadi juara dunia MotoGP untuk pertama kalinya, baik bagi dirinya maupun bagi tim Ducati. Stoner lantas menambahkan dua kemenangan lain di Australia dan Malaysia. Satu-satunya lawan serius bagi Stoner adalah pembalap Repsol Honda, Daniel Pedrosa, yang sayangnya ia lebih banyak tampil angin-anginan sepanjang musim. Sementara itu Loris Capirossi hanya berhasil meraih satu kali kemenangan saja yaitu di Jepang (seri dimana Stoner memastikan diri sebagai juara dunia 2007), sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke tim Suzuki mulai musim 2008. Motor Ducati GP7 sendiri selain tercatat sebagai motor tercepat di ajang MotoGP 2007 dengan kecepatan maksimal 337km/j juga terkenal sebagai motor dengan sisi aerodinamika paling baik, sampai membuat pembalap Yamaha Valentino Rossi terkagum-kagum dengan performa motor tersebut.
Musim 2008 Stoner masih menjadi favorit untuk mempertahankan gelar juara dunianya bersama Ducati. Ducati juga kemudian merekrut Marco Melandri untuk menggantikan Loris Capirossi yang hengkang ke Suzuki. Sepanjang musim 2008 Stoner berhasil menang di Qatar, Inggris, Jerman, Australia, dan Valencia. Namun kegagalan yang dialami Stoner di Ceko dan San Marino memupus harapannya untuk bisa mempertahankan gelar juara dunia dan ia kalah dari Valentino Rossi. Sementara itu Melandri nampak kesulitan untuk mengendarai motor Desmosedici GP8 dan akhirnya tim Ducati memutuskan untuk memutus kontrak Melandri lebih cepat dari durasi yang sebenarnya yaitu dua musim di akhir tahun 2008. Posisi Melandri sendiri kemudian digantikan oleh mantan juara dunia Nicky Hayden.
Musim 2009 Casey Stoner masih bertahan bersama Ducati dan ditemani oleh Nicky Hayden, dan Marco Melandri pindah ke tim satelit Kawasaki. Stoner mengalami masalah kesehatan di pertengahan musim (diduga ia mengalami anemia dan masalah tenggorokan), dan posisinya kemudian digantikan oleh pembalap Finlandia, Mika Kallio.Stoner lantas kembali membalap di seri Portugal dan berhasil meraih gelar juara di seri Australia dan Malaysia sebelum ia memutuskan untuk kembali absen di seri terakhir 2009 di Valencia. Hayden sendiri posisi finish terbaiknya hanya P3 di seri Indianapolis.
Musim 2010 Stoner dan Hayden masih bertahan di tim Ducati Marlboro. Stoner baru bisa menunjukan tajinya di paruh musim kedua 2010 dengan memenangi tiga seri lomba di Aragon, Jepang, dan Australia. Sementara Nicky Hayden hanya sekali mencatat posisi podium yaitu di seri Aragon setelah Andrea Dovizioso jatuh 100 meter menjelang finish. Stoner sendiri dipastikan pindah ke tim Repsol Honda mulai musim 2011 dan posisinya digantikan oleh Valentino Rossi.

2011-...: Era Valentino Rossi
Merujuk pada buku biografi Valentino Rossi berjudul What Ff I Had Never Tried It, Rossi menyatakan bahwa Ducati sebenarnya telah mengincar dirinya sejak pertengahan musim 2003 dimana saat itu Rossi tidak puas dengan standar kerja yang ada di tim Repsol Honda. Namun Rossi kemudian menolak tawaran Ducati karena ia berpendapat bahwa tim dengan gaya kerja beraroma kekeluargaan tidak sesuai dengan gaya kerja Rossi yang perfeksionis. Kemudian pada pertengahan 2009 isu tersebut muncul kembali seiring mulai tergusurnya dominasi Rossi di Yamaha oleh Jorge Lorenzo. Pada 15 Agustus 2010, usai GP Ceko, Rossi akhirnya dipastikan akan membalap untuk Ducati Marlboro mulai musim 2011 dan ia akan bertandem kembali dengan Nicky Hayden yang sempat menemaninya di Repsol Honda pada musim 2003

Share this Article on :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

See RIZK Project Channel on Youtube!

 

© Copyright ATOM Studios2012 | Dipakai Oleh Muhammad Rizki Utama | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.